Februari 25, 2024

Pemkab dan Satgas Percepatan Penanganan Covid Jepara Perlu Antisipasi Terjadinya Ledakan

Jepara, radarmurianews.com – Daerah zona merah di Provinsi Jawa Tengah saat ini, membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Penambahan secara signifikan jumlah warga Jepara yang terkonfirmasi COVID-19  dan meninggal dunia dengan status probable dan positif terkonfirmasi harus menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Kabupaten dan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Jepara.

Tanggapan dari Wakil Ketua DPRD Jepara, Drs Junarso  terkait dengan penanganan Covid-19 Jepara (19/6) , ia meminta agar Pemeritah Kabupaten Jepara dan Satgas Covid-19 untuk melakukan langkah-langkah antisipasi yang strategis serta  dituangkan dalam peta jalan yang jelas dan terukur. Harapannya dapat  dijadikan panduan semua pemangku kepentingan dan juga masyarakat.

“Jangan sampai saat dipuncak terjadi ledakan dan korban semakin banyak, baru  kita semua kebingungan,” ujar Junarso.

Junarso lantas menjelaskan, karena yang dihadapi ini wabah yang cepat menular, maka penanganannya juga harus berdasarkan kaidah-kaidah  epidemiologi dan  mempertimbangan cara-cara keilmuan. Bukan hanya kegiatan serimonial dan pencitraan, sementara-angka-angka  risiko penyebaran Covid-19 tidak digunakan sebagai pendoman.

Akibatnya  menurut Junarso kemudian terjadi ledakan tanpa dapat  diantisipasi secara  maksimal. Indikatornya dapat dilihat pada melonjakya angka warga yag terkonfirmasi positif Covid-10 serta 2500 lebih  warga Jepara yang terpaksa harus isman karena rumah sakit tidak lagi dapat menampung pasien, bahkan dengan  gejala berat. “Akibatnya banyak yang kemudian meninggal saat mencari ruang isolasi, karena semua ruang isolasi telah penuh,” ujar Junarso.

Ia mencemaskan, jika peningkatan angka ini tidak dicermati dengan  benar-benar berdasarkan kaidah-kaidah epidemiologis dan data yang benar, maka bisa saja meledak dan mengakibatkan fasilitas kesehatan lumpuh dan tidak mampu memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan..“Sebab banyak nakes yang terpapar dan jumlah warga yang membutuhkan pertolongan meningkat tajam,” tambah Junarso.

Untuk dapat mengendalikan penyebaran virus  ini tidak boleh  hanya dilakukan penanganan secara komprehensif di hilir seperti perawatan warga yang sakit,  dengan mengabaikan persoalan pokok yang ada di hulu yaitu kesadaran bersama  tentang 5 M yang rendah.

“Perlu dirumuskan formula baru ubah laku yang benar-benar  dapat dilaksanakan. Tentu harus melibatkan tokoh-tokoh lokal, termasuk tokoh agama,” ujar Junarso.

Visits: 33