Juli 17, 2024

Cerita Pedagang Buah Di Kawasan Wisata Yang Bangkit Dari Pandemi COVID-19

Cerita pedagang buah di kawasan wisata yang bangkit dari pandemi COVID-19

Cerita pedagang buah di kawasan wisata yang bangkit dari pandemi COVID-19

Rumini, salah satu pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan aneka buah-buahan hasil bumi Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memang tidak pernah membayangkan harus berhenti berjualan selama kurang lebih tiga bulan akibat pandemi COVID-19.

Karena usahanya berada di kawasan wisata Makam Sunan Kudus, sejak ditetapkan sebagai pandemi COVID-19 mulai Maret 2020, praktis tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung karena makam juga ditutup demi mencegah penularan virus corona.

Dirinya juga terdampak tidak bisa lagi berjualan, termasuk ratusan PKL lainnya yang menggantungkan hidupnya terhadap kunjungan peziarah.

“Saya sempat shock karena selama ini memang tidak pernah libur berjualan dalam tempo lama,” kata Sarmi ditemui di tempat jualannya di kawasan Wisata Colo Kudus, Kamis (26/11/2020).

Ketika sepi berjualan di kawasan wisata, dia mengakui, mencoba berjualan di sekolah-sekolah, namun karena sekolah juga diliburkan akibat dampak pandemi dirinya sementara menganggur di rumah.

Karena tidak mungkin menggantungkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan masa berakhirnya pandemi juga tidak bisa dipastikan akhirnya berfikir untuk mencari jalan agar tetap bisa mendapatkan pemasukan.

Buah-buahan yang biasa dijajakan di tempat wisata, seperti pisang maupun ketela akhirnya disulap menjadi ceriping untuk dijual kepada masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah laku sehingga bisa menjadi pemasukan untuk keluarga di masa pandemi,” ujarnya.

Hasilnya, lanjut dia, memang tidak besar karena keuntungan bersih setiap harinya hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp10.000 rupiah, sedangkan uang hasil penjualan juga dimanfaatkan untuk bebelanja bahan untuk dibuat aneka ceriping serta kacang goreng.

Usaha dadakan tersebut, berlanjut hingga dibukanya kembali tempat-tempat wisata oleh Pemkab Kudus dengan penerapan protokol kesehatan, sehingga peziarah dari berbagai daerah di Tanah Air kembali meramaikan Wisata Makam Sunan Muria.

Ia mengakui tidak langsung berjualan kembali karena wisatawan yang datang masih terbatas karena masih tahap uji coba, kemudian setelah dibuka untuk wisatawan dari berbagai daerah baru kembali berjualan.

Meskipun saat ini sudah banyak peziarah yang berdatangan ke Makam Sunan Muria, dia mengakui, belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

“Masih sepi karena yang belanja hanya satu dua orang, sedangkan transaksinya juga masih minim berkisar Rp50 ribuan,” ujarnya.

Hal itu, sangat bertolak belakang sebelum masa pandemi untuk akhir pekan bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp1 jutaan, sedangkan saat ini masih sulit karena daya beli wisatawan dimungkinkan juga menurun akibat dampak yang sama.

Meskipun demikian, dia tetap optimistis nantinya bisa normal kembali sambil meneruskan usaha membuat ceriping ketela atau pisang untuk dijual kepada masyarakat setempat serta menerima pesanan dalam jumlah besar.

Terapkan hidup hemat

Karena berakhirnya masa pandemi COVID-19 tidak ada yang bisa memprediksi dan hampir semua sektor usaha terdampak, masyarakat dituntut untuk menghemat pengeluaran.

“Jika sebelumnya mudah sekali membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak begitu penting, maka mulai sekarang dihemat,” ujar Rumini.

Apalagi, kata dia, pemasukannya dari berjualan aneka buah-buahan juga belum normal dan masih sepi, sedangkan buah yang terlalu lama tidak laku dijual juga mudah busuk.

Demikian halnya ketika kulakan buah juga dikurangi sesuai permintaan selama masa pandemi agar tidak merugi.

Buah pisang menjadi salah satu buah-buahan yang paling cepat membusuk sehingga kulakannya juga dikurangi karena masih sepi pembeli.

Sulikah, pedagang buah lainnya yang juga berjualan di kawasan objek wisata di Colo mengakui usahanya belum pulih 100 persen karena masih sepi pembeli.

“Jika sebelumnya bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp500 ribu sehari, saat ini tidak bisa dipastikan karena kadang hanya mendapatkan pemasukan Rp100 ribu, terkadang tidak ada transaksi sama sekali,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, dia mengandalkan sayur-sayuran yang ditanam sendiri di kebun miliknya sehingga tabungan masih tetap utuh dan bisa dijadikan modal usaha ketika pandemi sudah berakhir.

Meskipun terdampak pandemi selama berbulan-bulan, dia mengakui, tidak menyerah dengan keadaan dan tetap memiliki rasa optimis bisa kembali berjualan.

“Saya juga berdoa agar pandemi cepat berakhir sehingga pedagang kecil bisa kembali beroperasi dan mendapatkan pemasukan seperti sebelumnya,” ujarnya. (Mbar/red)

Views: 80